Jaro Dulhani, Kades/Kasepuhan Cibarani saat mengikuti Konsultasi Publik Raperda Masy. Kasepuhan di Kasepuhan Pasireurih (9/8/2015)Kesepuhan Cibarani merupakan bagian dari Kesatuan Adat Banten Kidul (SABAKI) yang berada di Desa Cibarani Kecamatan Cirinten Kabupaten Lebak, Banten.

dalam kesehariannya, bahasa yang digunakan adalah Bahasa Sunda. Bahasa Kearifan lokal sesuai ajaran dari Bapak Kolot yang telah diwariskan secara turun temurun. Sampai saat ini, sedikit telah terjadinya perubahan bahasa seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, namun amanat dari Kolot masih tetap eksis sampai saat Ini.

Profil Wilayah Adat Kasepuhan Cibarani
Nama Wilayah Kesepuhan    : Kasepuhan Cibarani
Kampung                     : Cibarani
Desa                          : Cibarani
Kecamatan                  : Cirinten
Kabupaten                   : Lebak
Provinsi                      : Banten

Jumlah penduduk Desa Cibarani sebanyak 1997 jiwa, terdiri dari laki-laki 1006 jiwa dan perempuan 991 jiwa. Jumlah KK 703 kepala keluarga. Dalam satu desa terdapat 4 Rw, dari 4 Rw terbagi 17 Rt. Diantaranya Rw 1 terdapat 6 Rt, Rw 2 terdapat 2 Rt, Rw 3 terdapat 7 Rt, Rt 4 terdapat 2 Rt.

Jumlah rumah yang tersebar di Kasepuhan Cibarani sebanyak 673 unit rumah. Pemekaran terjadi dalam 2 tahun di lihat dari jumlah penduduk yang jumlahnya mengalami peningkatan. Orang yang menjadi Rt dan Rw ialah orang yang dipercaya oleh Abah Jaro Dulhani dan akan ditunjuk langsung. Proses penempatan orang sebagai ketua Rt ditunjuk ketua adat, kemudian masyarakat dan sesepuh melakukan musyawarah. Jika semua menyetujui maka dilantik bersama dan sumpah jabatan di kediaman ketua adat Kasepuhan Cibarani.

Tanggal 10 Desember adalah hari jadi Cibarani semenjak tahun 2010, Kasepuhan Desa Cibarani memperingati hari jadi yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Dalam memperingati hari jadi desa. Abah jaro dan para sesepuh mengadakan pesta rakyat selama 2 hari 2 malam. Di hari pertama melakukan kumpulan, di hari kedua upacara dari masyarakat adat cibarani, koramil, babinsa, jajaran kecamatan yang bertempat di lapangan. Setelah upacara baris berbaris akanada pertunjukan wayang golek dan kesenian angklung di lapangan suka waris.

Kewilayahan adat
1. Kp cibarani
2. kp sukawaris
3. pasir gembong
4. gunung batu
5. cikolelet
6. cibandung
7. cikeper
8. cisedok
9. cipaku
10. cinangka
Perkiraan luasnya kurang lebih 900 hektar

Batas wilayah
Batas wilayah utara gunung sahud desa karang nunggal,
Batas selatan gunung kendeng desa wangun jaya,
Batas timur patok cor BPN SPH desa kenakes baduy,
Batas barat sungai cisaat desa cirinten.

Satuan wilayah adat kasepuhan cibarani kampung yang masyarakatnya keturunan parung kujang.

Kondisi fisik wilayah adat, pegunungan yang meliputi hutan, sawah, huma, kebon, sungai, leuit.

Hutan yang telah di garap oleh masyarakat kemudian menghasilkan hasil bumi itu di kenakan 2 ½ % dari hasil yang di panen , yang di kenakan oleh lembaga LMDH, 670 Ha luas wilayah perhutani di kasepuhan adat cibarani yang telah di garap oleh masyarakat.

Semenjak ada pemetaan sosial yang dilakukan oleh RMI maka pungutan 2,5% yang dibebankan pada masyarakat tidak ada lagi.

Penggunaan lahan untuk ketahanan pangan
Sawah dimanfaatkan sebagai penghasilan padi, palajiwa, ikan, belut dan yang lainnya.Huma dimanfaatkan sebagai penhasilan padi, jagung, mentimun.Kebon dimanfaatkan sebagai tempat untuk menenem segala jenis kebutuhan baik sandang, pangan, papan.Sungai dimanfaatkan sebagai penghasil ikan, selain ikan sungai di pakai sawah sebagai irigasi.Leuit dimanfaatkan sebagai padi dari hasil panen.

Mata pencaharian utama masyarakat kasepuhan adat cibarani adalah pertanian yang secara turun menurun darin zaman ki benen (masa jaman lampau)

Sebelum melakukan menanam padi masyarakat kasepuhan adat cibarani harus melakukan ritual terlebih dahulu. Ritual melak jampe adalah ritual yang dilaksanakan sebelum menanam padi. Ritual melak jampe dilakukan hanya dengan orang khusus yang bisa membaca jampe, jika tidak bisa membaca jampe maka harus meminta kepada kasepuhan untuk melakukan ritual melak jampe, proses melak jampe wajib membakar menyan. Masyarakat Kasepuhan adat cibarani melakukan pertanian dari jam 07.00 wib sampai dengan jam 15.00 wib. Jenis padi di masyarakat kasepuhan adat cibarani diantaranya : pare petey, pare gantang, pare raja wesi, pare cere, pare hideung, pare bulu, ketan kanas, ketan jerat, ketan hideung, pare huma (khusus di ladang), pare serang gede, pare serang leutik, pare sengke, pare menyan.

Pare tumbuh besar biasanya dalam waktu 6 bulandari tanam sampai panen, setelah panen berlangsung pare di simpan ke dalam leuit, sebelum dimasukan masyarakat kasepuhan adat cibarani melakukan ritual diukan (menetapkan). Ritual ini hanya di khususkan untuk laki-laki yang membaca jampe, tidak boleh perempuan yang melakukan ritual. Syarat untuk melakukan ritual ini menyan, panglay.

Jampe peper kalau ada yang terinjek melakukan ritual bertujuan untuk di sempurnakan dan itu tandanya bahwa pare telah dititipkan kepada perempuan. Jadi saat di sawah atau di huma dari tanam sampai panen itu punya lelaki, setelah hasil panen di simpan kedalam leuit barulah punya perempuan (istri). Laki-laki dilarang mengambil pare itu kepunyaan perempuan, kalau laki-laki mengambilnya berarti maling, hal itu ada aturan dan hukum adatnya.

Dalam pengambilan pare didalam leuit setiap langkah ada jampenya dari naik ke tangga yang satu dan seterusnya sampai masuk ke dalam leuit, sampai mendirikan pare ada jampe yang berbeda-beda tidak boleh sembarangan membacanya. Dalam melakukan ritual ini hanya pemilik pare yang melakukannya yaitu perempuan (istri).

Sesudah pare di ambil dari dalam leuit kemudian pare di tumbuk di lisung atau di penggilingan padi. Mayoritas masyarakat adat kasepuhan cibarani menggunakan penggilingan. Dalam proses tebar, ngagaru, mipit padi (mengumpulkan), tanam sampai panen yang menjalankan harus dengan keturunan yang sama. Ada 7 turunan di kasepuhan adat cibarani turunan kudrat, turunan sri, turunan sukma. Setiap turunan memiliki jampe yang berbeda.

Memanen pare, setelah di panen didiamkan untuk di jemur. Berbulan-bulan bahkan sampai tahunan. Barulah pare dibawa dan dimasukan ke dalam leuit. Masyarakat adat kasepuhan cibarani tidakboleh menjual pare atau beras karena ada hukum adat dari para bapak kolot. Pare yang di panen semakin tahun semakin banyak maka masyarakat adat menyimpan pare di leuit untuk makan di hari yang akan datang, berarti manfaat (berkah)

Penghasilan masyarakat kasepuhan adat cibarani beraneka ragam diantaranya membuat nyiru yang di buat oleh masyarakat untuk di jual ke pasar, berdagang (warung kecil, berdagang makanan,kue), menjual hasil bumi seperti kayu, cengkeh, pete, duren, kopi, kakao, dan yang menjadi ciri khas masyarakat adat kasepuhan cibarani gula aren. Penghasilan masyarakat mulai dari Rp. 234.000 sampai dengan Rp. 700.000 /bulannya.